Tafsir Surat At Tahrim Ayat 6

Bookmark and Share
Sekilas tafsir At Tahrim ayat 6

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

At Tahrim, 66 : 6

________________________________________

Tafsir :

Tafsir Ibnu Katsir

Mengenai firman Allah subhanahu wa ta’ala,  “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka”, Mujahid (Sufyan As-Sauri mengatakan, “Apabila datang kepadamu suatu tafsiran dari Mujahid, hal itu sudah cukup bagimu”) mengatakan : “Bertaqwalah kepada Allah dan berpesanlah kepada keluarga kalian untuk bertaqwa kepada Allah”. Sedangkan Qatadah mengemukakan : “Yakni, hendaklah engkau menyuruh mereka berbuat taat kepada Allah dan mencegah mereka durhaka kepada-Nya. Dan hendaklah engkau menjalankan perintah Allah kepada mereka dan perintahkan mereka untuk menjalankannya, serta membantu mereka dalam menjalankannya. Jika engkau melihat mereka berbuat maksiat kepada Allah, peringatkan dan cegahlah mereka.”

Demikian itu pula yang dikemukakan oleh Adh Dhahhak dan Muqatil bin Hayyan, dimana mereka mengatakan : “Setiap muslim berkewajiban mengajari keluarganya, termasuk kerabat dan budaknya, berbagai hal berkenaan dengan hal-hal yang diwajibkan Allah Ta’ala kepada mereka dan apa yang dilarang-Nya.”

Tafsir dari Departemen Agama Pemerintah Indonesia

Dalam ayat ini firman Allah ditujukan kepada orang-orang yang percaya kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, yaitu memerintahkan supaya mereka, menjaga dirinya dari api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu, dengan taat dan patuh melaksanakan perintah Allah, dan mengajarkan kepada keluarganya supaya taat dan patuh kepada perintah Allah untuk menyelamatkan mereka dari api neraka.

Di antara cara menyelamatkan diri dari api neraka itu ialah mendirikan salat dan bersabar, sebagaimana firman Allah SWT.

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu mengerjakannya (Q.S Taha: 132).

dan dijelaskan pula dengan firman-Nya:

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. (Q.S Asy Syu’ara’: 214).

Diriwayatkan bahwa ketika ayat ke 6 ini turun, Umar berkata: “Wahai Rasulullah, kami sudah menjaga diri kami, dan bagaimana menjaga keluarga kami?” Rasulullah SAW. menjawab: “Larang mereka mengerjakan apa yang kamu dilarang mengerjakannya dan perintahkanlah mereka melakukan apa yang Allah memerintahkan kepadamu melakukannya. Begitulah caranya meluputkan mereka dari api neraka. Neraka itu dijaga oleh malaikat yang kasar dan keras yang pemimpinnya berjumlah sembilan belas malaikat, mereka dikuasakan mengadakan penyiksaan di dalam neraka, tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan Allah.

________________________________________

Dari uraian diatas, dapat kita ambil poin-poin penting yang dapat kita jadikan pegangan dalam membina diri sendiri dan orang lain :

1. Niat yang lurus, semata-mata demi meraih ridha Allah subhanahu wa ta’ala, melaksanakan syari’ah islam dan melaksanakan da’wah.

•    Sebagaimana hadits dari Umar, “Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung pada niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan” (Muttafaqun ‘alaih).

2. Proses pembinaan dimulai dari diri sendiri.

•    Hal ini tersurat dengan jelas dalam At Tahrim yaitu “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. Disini dikatakan “peliharalah dirimu” terlebih dahulu baru setelah itu dikatakan “keluargamu”.

•    Sebagaimana apa yang dikatakan oleh Mujahid : ”Bertaqwalah kepada Allah dan berpesanlah kepada keluarga kalian untuk bertaqwa kepada Allah”. Disini Mujahid mengatakan bahwa kita diharuskan bertaqwa kepada Allah terlebih dahulu, baru setelah itu kita berpesan kepada keluarga kita untuk bertaqwa kepada Allah.

3. Bekal ‘ilmu adalah yang utama

•    Sebagaimana yang dikatakan Adh Dhahhak dan Muqatil bin Hayyan, “Setiap muslim berkewajiban mengajari keluarganya…”, dari kata “mengajari” jelas sekali tersirat bahwa posisi setiap muslim yang “mengajari” haruslah berilmu, sehingga ia bisa menyempurnakan kekurangan orang lain yang ia ajari.

•    Dan dari hadits, ketika Umar bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallaam, maka Rasulullah menjawab : “Larang mereka mengerjakan apa yang kamu dilarang mengerjakannya dan perintahkanlah mereka melakukan apa yang Allah memerintahkan kepadamu melakukannya.” Dari ini dapat kita ambil pelajaran bahwa untuk melarang dan memerintahkan orang lain berdasarkan syariat, maka kita harus terlebih dahulu paham apa saja larangan dan perintah itu. Dan hal ini adalah salah satu hal yang menguatkan pentingnya menuntut ‘ilmu.

4. Taqwa adalah kunci dalam memelihara diri kita sendiri dan keluarga kita dari api neraka. Dalam tafsir Ibnu Katsir dari surat Al Baqarah ayat 2, pada bagian “hudal lil muttaqiin”, disini dijelaskan definisi taqwa sebagai berikut :

•    Menurut suatu riwayat, Umar ibnul Khatthab r.a pernah bertanya kepada Ubay ibnu Ka’ab tentang makna taqwa, maka Ubay ibnu Ka’ab balik bertanya, “Pernahkah engkau menempuh jalan yang beronak duri?”. Umar menjawab, “Ya, pernah”. Ubay ibnu Ka’ab bertanya lagi, “Kemudian apa yang kamu lakukan?”. Umar menjawab “Aku bertahan dan berusaha sekuat tenaga untuk melampauinya.” Ubay ibnu Ka’ab berkata, “Itulah yang namanya taqwa.”

•    Pengertian ini disimpulkan oleh Ibnul Mu’taz melalui bait-bait syairnya, yaitu : “Lepaskanlah semua dosa, baik yang kecil maupun yang besar , itulah namanya taqwa. Berlakulah seperti orang yang berjalan di atas jalan yang beronak duri, selalu waspada menghindari duri-duri yang dilihatnya. Dan jangan sekali-kali meremehkan sesuatu yang kecil (dosa kecil), sesungguhnya bukit itu terdiri atas batu-batu kerikil yang kecil-kecil.”

5. Proses pembinaan selanjutnya dimulai dari orang-orang dekat, dimulai dari keluarga sampai teman-teman dekat.

•    Berdasarkan ayat Al Qur’an : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. “(Q.S Asy Syu’ara’: 214)

•    Berdasarkan perkataan Mujahid : “dan berpesanlah kepada keluarga kalian untuk bertaqwa kepada Allah.”

•    Berdasarkan perkataan Adh Dhahhak dan Muqatil bin Hayyan : “Setiap muslim berkewajiban mengajari keluarganya, termasuk kerabat dan budaknya.”

6. Kesabaran memegang peranan penting.

•    Berdasarkan tafsir DEPAG yang menyebutkan ayat berikut : “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu mengerjakannya” (Q.S Taha: 132).

•    Pembinaan seperti ini adalah amal shalih, dan setiap amal shalih adalah perwujudan dari iman. Hal ini dapat kita simpulkan berdasarkan kesimpulan dari syaikh Al Utsaimin bahwa iman adalah : “Ikrar dengan hati, pengucapan dengan lisan, pengamalan dengan anggota badan.”  Dan hal yang tak bisa lepas dari keimanan adalah kesabaran (keimanan adalah kesabaran), hal ini sebagaimana tak bisa lepasnya haji dari wukuf (haji adalah wukuf di arafah).

Wallahu a’lam.
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger
Twitter

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar

Ayo tinggalkan jejak anda berupa komentar disini !!! karena komentar anda sangat berarti sekali demi kemajuan blog ini.

Panduan Memberi Komentar
1.Masukan komentar anda
2.Lalu pada kata 'beri komentar sebagai' , pilih account yang anda punya, bagi yang belum mempunyai account pilih Name/url, isi nama anda dan Kosongkan URL atau isi dengan alamat facebook anda(untuk mengetahui alamat facebook anda silahkan login ke facebook dan pilih profile anda, anda dapat melihat alamat Facebook anda di atas, contoh alamat Facebook punya saya http://www.facebook.com/profile.php?id=1823916177
3.dan kemudian Publikasikan
4.Selesai dan anda tinggal menunggu komentar anda muncul
Semoga bermanfa'at.