Sabtu, 19 Mei 2012

Metode Pembelajaran Fiqih Berbasis Active Learning di Kelas Akselerasi MAN 03 Palembang


Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan kunci untuk semua kemajuan dan perkembangan yang berkualitas, sebab dengan pendidikan manusia dapat mewujudkan semua potensi dirinya baik sebagai pribadi maupun sebagai warga masyarakat. Dalam rangka mewujudkan potensi diri menjadi multiple kompetensi harus melewati proses pendidikan yang diimplementasikan dalam proses pembelajaran. Berlangsungnya proses pembelajaran tidak terlepas dengan lingkungan sekitar. Sesungguhnya pembelajaran tidak terbatas pada empat dinding kelas. Pembelajaran dengan pendekatan lingkungan menghapus kejenuhan dan menciptakan peserta didik yang cinta lingkungan.
Seorang pendidik/guru dituntut untuk cermat dalam memilih dan menetapkan metode apa yang tepat digunakan untuk menyampaikan meteri pelajaran kepada peserta didik. Karena dalam proses belajar mengajar dikenal ada beberapa macam metode antara lain: metode ceramah, metode diskusi, metode tanya jawab, metode demonstrasi dan lain sebagainya. Semua metode tersebut dapat diaplikasikan dalam proses belajar mengajar.
Oleh karena itu Abdurrahman An-Nahlawi mengemukakan bahwa sifat-sifat pendidik muslim diantaranya ialah harus mampu menggunakan berbagai metode mengajar secara bervariasi dan menguasainya dengan baik serta mampu memilih metode mengajar yang sesuai dengan materi pelajaran serta situasi belajar mengajarnya (Yunus Namsa, 2000 : 92).
Metode selalu tumbuh atau mengalami perkembangan atau perubahan seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan tentang psikologi anak, sebagaimana John Vaizey yang dikutip Yunus Namsa bahwa sumber yang menyebabkan perubahan dalam metode mengajar yang paling menonjol adalah pengetahuan psikologi anak yang berubah-ubah dan proses belajar yang harus diikuti oleh para guru (Yunus Namsa, 2000 : 117).
Perubahan dalam hal ini peningkatan pengetahuan tentang psikologi anak-anak menyebabkan konsepsi tentang mengajar berubah dari pusat pada guru (teacher centered) dalam konsep lama beralih terpusat pada murid (student centered) dalam konsep baru. Hal ini juga membawa akibat terhadap keharusan mengutamakan penggunaan metode-metode yang lebih merangsang keaktifan murid selama belajar karena memang mereka yang belajar dan mereka pula yang diajar. Dengan ungkapan lain, seorang guru dituntut untuk menggunakan metode yang bervariasi dan dapat membuat siswa menjadi aktif.
Banyak macam metode yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran islam yang juga relevan dengan pembelajaran fiqih, diantaranya: metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, metode resitasi (pemberian tugas), metode demonstrasi, metode pemecahan masalah (problem solving) metode simulasi (Depag RI, 2001 : 104). Tidak ada metode mengajar yang lebih baik dari metode yang lain. Tiap-tiap metode memiliki kelemahan dan kelebihan. Dalam penerapannya tidak satu metode saja yang digunakan dalam satu kali proses pembelajaran melainkan dapat digunakan dua, tiga atau lebih, disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Semakin bervariasi metode yang digunakan semakin menghidupkan suasana kelas bagi siswa-siswi yang belajar.
            Dalam pendidikan agama Islam, misalnya dalam pelajaran fiqih, seorang guru dapat memilih beberapa metode yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan seperti materi tentang berwudhu. Pada materi ini seorang guru fiqih bisa memakai metode ceramah, metode kelompok, metode tanya jawab, demonstrasi atau metode yang lainnya yang menurut guru fiqih bisa dipakai dan cocok dengan materi yang disampaikan. Karena harus disadari oleh pendidik tidak semua metode cocok dengan materi yang akan disampaikan.
            Menurut Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar (1995, hal. 7-10) mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih dan mengaplikasikan sebuah metode pengajaran; Tujuan yang hendak dicapai, Kemampuan guru, Anak didik, Situasi dan kondisi pengajaran di mana berlangsung, Fasilitas yang tersedia, Waktu yang tersedia dan Kebaikan dan kekurangan sebuah metode.
            Menurut Amin Abdullah (2001, hal. 59) pembelajaran pendidikan agama Islam yang berjalan hingga sekarang lebih banyak terfokus pada persoalan persoalan teoritis keagamaan yang bersifat kognitif semata. Pendidikan agama terasa kurang terkait atau kurang consern terhadap persoalan bagaimana mengubah pengetahuan agama yang bersifat kognitif menjadi “makna” dan “nilai” yang perlu diinternalisasikan dalam diri peserta didik lewat berbagai cara, media dan forum. Selanjutnya “makna” dan “nilai” yang telah terkunyah dan terhayati tersebut dapat menjadi motivasi bagi peserta didik untuk bergerak, berbuat, berprilaku secara konkrit agamis dalam wilayah kehidupan praksis sehari-hari.
Selama ini terkesan bahwa pendidikan menganut asas subject matter oriented yang membebani peserta didik dengan informasi-informasi kognitif dan motorik yang kadang-kadang kurang relevan dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan psikologis peserta didik. Pendidikan yang menyangkut ranah kognitif sudah dijalankan dengan perhatian yang besar. Pengelolaan pengajaran yang ada memberi kesan terlalu berorientasi kepada iptek termasuk juga keterampilan motorik terlalu berorientasi pada teknis. Dengan asas ini dapat dihasilkan lulusan yang pandai, cerdas, dan terampil; tetapi kepandaian dan kecerdasan intelektual tersebut kurang diimbangi dengan kecerdasan emosional. Keadaan demikian terjadi karena kurangnya perhatian pada ranah afektif. Padahal ranah afektif sama penting peranannya dalam membentuk perilaku peserta didik. Sekarang, dalam mendukung demokratisasi pendidikan, tibalah saatnya mengubah asas subject matter oriented ke student oriented. Orientasi pendidikan yang bersifat student oriented lebih menekankan pada pertumbuhan, perkembangan, dan kebutuhan peserta didik secara utuh baik lahir maupun batin. Dalam hal ini kecerdasan otak memang penting, tetapi kecerdasan emosional juga tidak kalah pentingnya. Pengajaran tidak harus top down namun diimbangi dengan bottom up sehingga tidak ada lagi pemaksaan kehendak pendidik tetapi akan terjadi tawar-menawar kedua belah pihak dalam menentukan tujuan, materi, media, PBM, dan evaluasi belajarnya (Zulkarnain 2006, hal.91-92).
            Proses pengajaran pendidikan agama Islam sebagaimana yang berlangsung bersandar pada bentuk metodologi yang bersifat statis-indoktrinasi-doktriner, tidaklah menarik bagi peserta didik dan cepat membosankan. Karena itu perlu dicari cara yang baru sehingga isi dan metodologi pendidikan Islam menjadi aktual-kontekstual (Kasinyo Harto dan Abdurrahmansyah (2009, hal. 4).
Pendidikan agama Islam yang berlangsung hingga sekarang tampaknya masih terjebak dalam pengajaran ranah kognitif dogmatis yang sibuk mengajarkan pengetahuan peraturan dan hukum dengan disiplin ilmu fiqih (Fiqih Oriented) sehingga fiqih dianggap sebagai agama itu sendiri. Selain itu pembelajaran pendidikan agama Islam masih banyak memfokuskan pada isi atau muatan materi yang ditransfer kepada anak didik dengan dalil-dalil dan dogma-dogma yang tidak menyentuh realitas kehidupan dan bukannya pada proses dan metodologi.
            Mata pelajaran fiqih dalam kurikulum Madrasah Aliyah adalah salah satu bagian mata pelajaran Pendidikan Agma Islam (PAI) yang diarahkan untuk menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati dan mengamalkan hukum Islam, yang kemudian menjadi pandangan hidup (way of life) melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman dan pembiasaan (Depag RI 2004, hal. 46).
Mata pelajaran Fiqih sebagai salah satu mata pelajaran yang diberikan kepada peserta didik demi mendukung kemampuan seseorang dalam hal hukum islam. Fiqih berfungsi sebagai landasan seorang muslim apabila akan melakukan praktek ibadah. Oleh karena itulah mata pelajaran Fiqih penting mendapat perhatian yang besar bagi seoarang anak di usia dini, agar kedepannya dia akan terbiasa menjalankan kehidupan sesuai dengan hukum islam yang ada.
            Ditinjau dari aspek metodologis, proses pendidikan agama Islam diantaranya pembelajaran fiqih yang berlangsung hingga sekarang masih banyak top down dan membawakan kebenaran agama dari atas sehingga kurang menghiraukan kenyataan-kenyataan yang unit dan melibatkan dengan kebutuhan keseharian. Pada aspek materi, tampak masih lebih dominan aspek ritualnya dengan disiplin ilmu fiqih sebagai pilihan. Pendekatan yang digunakanpun sangat normatif dan dogmatik. Sehingga kehadiran pelajaran pendidikan agama Islam terasa membosankan dan kurang menantang (Kasinyo Harto dan Abdurrahmansyah 2009, hal. 7).
            Menurut Azyumardi Azra (2001, hal. 84-86) ada beberapa persoalan yang muncul dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam sekarang ini, diantaranya krisis metodologi atau krisis pedagogik. Sekarang ini semakin tinggi kecenderungan pola pelaksanaan pendidikan agama Islam, bahwa yang terjadi adalah lebih merupakan proses teaching, proses pengajaran, ketimbang proses learning, proses pendidikan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa proses pengajaran pendidikan agama Islam hingga sekarang hanya mengisi aspek pribadi dan watak.
            Dapat dipahami selama ini yang terjadi ialah proses pasif, dimana anak didik hanya mendengar dan menerima dari guru atau dosen tanpa ada unsur kreatifitas. Kecenderungan ini berkaitan juga dengan implikasi lebih lanjut dari banking concept of education ; dosen ataupun guru hanya menekankan pada memorisasi, menekankan hapalan ketimbang pemikiran kritis. Sehingga peserta didik yang baik menurut sistem pembelajaran seperti ini adalah anak yang penurut, tidak kritis serta mematuhi aturan yang sudah ada.
            Dalam kaitan ini Amin Abdullah (2001, hal. 64) mencoba menwarkan sebuah metode dalam proses pembelajaran agama Islam yakni proses pembelajaran yang melibatkan dimensi historis-empiris-saintifik. Tampaknya metode yang ditawarkan Amin tersebut adalah sintesa harmonis antara doktriner-saintifik sehingga aspek kognitif, afektif dan psikomotorik tersaji. Lewat partisipasi anak didik secara aktif-responsif.
Perkembangan yang pesat utamanya dalam bidang informasi, mensyaratkan perlunya menggeser pola pembelajaran yang lebih aktif dan partisipasif. Dengan semakin meningkatnya laju perkembangan pengetahuan, guru tidak mampu lagi menjadi satu-satunya sumber informasi. Demikian kian juga dengan peserta didik, perlu menggeser peran dari sekedar menerima pasif informasi menuju pencarian aktif pengetahuan dan keterampilan serta menggunakannya secara bermakna.
Hal  di atas sejalan dengan tuntutan perundang undangan, yaitu undang undang No.20 tentang Sisdiknas, pasal 40 salah satu ayatnya berbunyi: “guru dan tenaga kependidikan berkewajiban untuk menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan dialogis” (Sisdiknas 2009, hal.148). dan Peraturan Pemerintah. No. 19 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 19 (1). Dinyatakan bahwa proses pembelajaran pada suatu pendidikan dilaksanakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, meberikan ruang gerak yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis siswa (PP. 2009, hal. 209).
Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004 dan Standar Isi dan Kompetensi (SISKO) 2006 digunakan istilah kegiatan belajar untuk menyebut seluruh kegiatan siswa dalam proses belajar mengajar dalam rangka menguasai kompetensi. Penggunaan istilah kegiatan belajar membuat semua orang sadar bahwa pusat utama proses belajar mengajar di kelas adalah siswa (Student Centered Learning). Paradigma ini mengembang menjadi paradigma pendekatan belajar mutakhir, menggeser kebiasaan sekolah tradisional yang cenderung menempatkan guru sebagai pusat kegiatan. Namun umum terjadi bahwa guru yang terlihat aktif di kelas dan menjadi subjek yang mendominasi dalam proses pembelajaran, sementara siswa pasif (Kasinyo Harto dan Abdurrahmansyah 2009, hal. 121).
Menurut Silberman didalam Imam Makruf (2009, hal. 78-79), konsep belajar aktif ini diilhami oleh pernyataan Confucius 2400 tahun yang lalu dengan mengatakan:
Apa yang saya dengar, saya lupa (what I hear, I forget)
Apa yang saya lihat, saya ingat (what I see, I remember)
Apa yang saya lakukan, saya paham (what I do, I understand)
Konsep tersebut kemudian dimodifikasi dan memperluas pernyataan Silberman menjadi apa yang disebut paham belajar aktif:
Apa yang saya dengar, saya lupa
Apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit
Apa yang saya dengar, lihat, dan tanyakan atau diskusikan dengan beberapa teman lain, saya mulai paham
Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan dan lakukan, saya memperoleh pengetahuan dan keterampilan
Apa yang diajarkan pada orang lain, saya kuasai.
Dengan demikian  jelas bahwa permasalahan cukup mendasar dalam  pendidikan atau pembelajaran harus memperhatikan kebrmaknaan bagi peserta didik yang dilakukan secara dialogis atau interaktif, yang pada intinya pebelajaran berpusat pada siswa sebagai pebelajar dan pendidik sebagai fasilitator yang memfasilitasi agar terjadi belajar pada peserta didik.     
Belajar aktif pada dasarnya ingin mengakomodir semua belajar siswa, sehingga masing-masing akan dapat belajar dengan baik. Proses belajar aktif juga didasarkan pada upaya untuk lebih memanusiakan manusia. Pembelajaran aktif mengakui bahwa setiap siswa memiliki kemampuan atau potensi untuk belajar. Dengan demikian yang diperlukan adalah bagaimana agar potensi untuk belajar tersebut dapat diekspoitasi semaksimal mungkin. Masing-masing siswa ditempatkan pada posisi yang sama, sejajar dan memiliki kesempatan yang sama dalam belajar (Imam Makruf 2009, hal. 80).
Dalam proses belajar mengajar dikenal adanya istilah “pengajaran” dan “pembelajaran”. Dua istilah tersebut sering diidentikkan atau dianggap sama, meskipun secara filosofis memiliki perbedaan. Pengajaran lebih menekankan pada terjadinya proses mengajar, atau dengan kata lain, dalam pengajaran yang lebih aktif melakukan kegiatan adalah pengajarnya. Dengan demikian, apabila pengajar sudah menyampaikan kepada siswa sesuai dengan kurikulum yang ada, maka proses belajar mengajar dianggap selesai. Hal ini berbeda dengan “pembelajaran” yang lebih menekankan pada upaya untuk mewujudkan terjadinya proses belajar siswa. Dalam hal ini yang lebih banyak melakukan aktifitas adalah siswa. Dengan kata lain, pembelajaran lebih menunjukkan pada terjadinya belajar secara aktif (Imam Makruf 2009, hal. 77).
Ide pembelajaran aktif ini sebenarnya mengacu kepada bagaimana memberikan sesuatu yang berbeda. Jadi pembelajaran aktif sebenarnya mengakomodasi perbedaan yang ada diatara individu peserta didik. Seperti diketahui peserta didik bersifat unik. Oleh karena itu ada beberapa defenisi yang di kutip dari Junaedi (2008, hal. 12) tentang defenisi pembelajaran aktif. Defenisi yang dimaksud sebagai berikut:
1.      Belajar aktif menurut Meyers dan Jones, meliputi pemberian kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan diskusi yang penuh makna, mendengar, menulis, membaca dan merefleksikan materi, gagasan, isu, dan materi akademi.
2.      Paulson dan Faust mengungkapakan bahwa belajar aktif secara sederhana merupakan segala sesuatu yang dilakukan peserta didik selain menjadi pendengar pasif ceramah dari guru.
3.      Jaoin Report, menyatakan bahwa belajar merupakan pencarian makna secara aktif oleh peserta didik. belajar lebih merupakan pembangunan pengetahuan daripada sekedar menerima pengetahuan secara aktif.
4.      Chikering dan Gamson menambahkan bahwa belajar tidaklah seperti mennonton oleh raga
Pembelajaran aktif seringkali dikombinasikan dengan pembelajaran kerjasama atau kolaborasi di mana siswa bekerja secara interaktif dalam tim yang memajukan ketergantungan dan pertanggungjawaban individual untuk mencapai tujuan bersama.  Sebagai tambahan, pembelajaran aktif bisa menunjukkan berbagai kecerdasan (http://www.baldrigeindo.com).
Apa yang menjadikan belajar Aktif ? Agar belajar menjadi aktif, siswa harus mengerjakan banyak sekali tugas. Mereka harus menggunakan otak, mengkaji gagasan, memecahkan masalah, dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Belajar aktif harus gesit, menyenangkan, bersemangat dan penuh gairah. Siswa bahkan sering meninggalkan tempat duduk mereka, bergerak leluasa dan berfikir keras (moving about dan thingking aloud) (Melvin L. Silberman 2006, hal. 9)
Dapat dipahami pembelajaran aktif adalah segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan anak berperan secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri baik dalam bentuk interaksi antar anak maupun anak dengan pendidik dalam proses pembelajaran tersebut. Tujuannya adalah untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak, sehingga semua anak dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki.
Belajar aktif atau active learning  merupakan langkah cepat, menyenangkan, mendukung dan secara pribadi menarik hati dimana para siswa dapat mengajukan pertanyaan tentang pelajaran tertentu dan mendiskusikannya dengan guru dan teman. Dengan konsep belajar menyenangkan siswa termotivasi untuk aktif dalam pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan mudah, efektif dan efisien. Adapun kendala yang dihadapi antara lain saat kegiatan belajar mengajar berlangsung ada beberapa siswa yang membuat keributan sehingga siswa lain jadi terganggu serta tidak semua materi pelajaran dapat disampaikan dengan strategi permainan atau strategi yang sama.
            Madrasah Aliyah Negeri 03 (MAN 03) Palembang adalah salah satu Madrasah Aliyah Negeri yang berada di kota Palembang. Madrasah Aliyah Negeri 03 (MAN 03) Palembang mempunyai tiga program studi yaitu, program reguler, program bilingual dan program akselerasi. Madrasah Aliyah Negeri 03 (MAN 03) Palembang adalah satu-satunya Madrasah Aliyah Negeri di kota Palembang yang mempunyai program studi akselerasi.
            Sehubungan dengan program studi akselerasi ini yang menyelesaikan atau menamatkan sekolah lebih cepat satu tahun dari program reguler dan program bilingual yang memakan waktu selama tiga tahun. Dengan demikian timbul ketertarikan untuk mengobservasi awal atau survei terhadap proses pembelajaran di kelas akselerasi ini.
            Dalam observasi awal difokuskan untuk melihat metode yang dipakai dalam proses belajar mengajar. Pelajaran yang menjadi titik fokus adalah pelajaran fiqih agar sesuai dengan ilmu pendidikan Islam. Dalam observasi awal ini diketahui bahwa proses pembelaran fiqih berlangsung secara aktif seperti, siswa-siswi bergiliran mendemonstrasikan materi-materi fiqih yang bersifat praktek, terdapat diskusi yang proses pembelajaran, guru bertindak sebagai fasilitator dan penengah permasalahan yang mungkin perlu bagi siswa untuk diluruskan, terjadinya tanya jawab yang sangat baik, dan yang cukup menarik adalah selalu merubah posisi tempat duduk siswa-siswi seperti huruf U, meja konferensi, lingkaran, dan kelompok yang bertujuan agar siswa-siswi tidak jenuh dan dapat berperan aktif dalam proses belajar mengajar. Walaupun juga ada beberapa siswa-siswa yang kurang mengikuti cara pembelajaran seperti ini. Dari beberapa keaktifan yang ada sehingga peneliti tertarik untuk menghubungkan proses keaktifan yang dilakukan di kelas akselerasi dengan konsep atau teori tentang belajar aktif. Apakah sudah sesuai dengan prinsip dan kriteria pembelajaran aktif, karena masih terdapat siswa yang tidak begitu mengikuti pembelajaran ini.
            Oleh karena itu untuk mengetahui lebih dalam tentang metode pembelajaran fiqih ini. Maka penulis berminat melakukan penelitian dan menulisnya ke dalam sebuah karangan ilmiah dengan judul:   Metode Pembelajaran Fiqih Berbasis Active Learning di Kelas Akselerasi  MAN 03 Palembang.

Perumusan dan Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dikemukakan beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1.        Metode apa saja yang pakai dalam proses pembelajaran fiqih di kelas akselerasi MAN 03 Palembang ?
2.        Bagaimana implementasi metode pembelajaran fiqih berbasis active learning di kelas akselerasi MAN 03 Palembang ?
3.        Faktor-faktor apa saja yang menjadi penghambat dan pendukung metode pembelajaran fiqih berbasis active learning di kelas akselerasi MAN 03 Palembang?
Dalam penelitian ini peneliti membatasi permasalahan pada pelajaran fiqih dengan metode ceramah, diskusi, kelompok, demonstrasi dan tanya jawab.

Tujuan Penelitian
Sesuai dengan batasan masalah dan rumusan masalah yang menjadi fokus penelitian, seperti dikemukakan di atas, maka tujuan penelitian ini sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui metode yang dipakai proses pembelajaran fiqih di kelas akselerasi MAN 03 Palembang.
2.      Untuk mengetahui implementasi metode pembelajaran fiqih berbasis active learning di kelas akselerasi MAN 03 Palembang.
3.      Untuk mengetahui Faktor-faktor apa saja yang menjadi penghambat dan pendukung metode pembelajaran fiqih berbasis active learning di kelas akselerasi MAN 03 Palembang.

Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan berguna baik secara teoritis maupun praktis. Secara teoritis kegunaan penelitian ini adalah:
1.      Bagi Akademik dapat menambah/memperkaya kajian dibidang ilmu metode pembelajaran berbasis active learning
2.      Bagi peneliti, dapat menjadi masukan atau sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya untuk meneliti hal yang sama.
Sedangkan secara praktis kegunaan penelitian ini adalah
1.      Bagi sekolah dapat menjadi masukan sebagai bahan pertimbangan dalam mengembangkan metode berbasis active learning.
2.      Bagi para guru dapat menjadi masukan untuk memperbaiki cara mengajar.

Tinjauan Pustaka
Ita Isdianti (STAIN Surakarta, 2006), dengan judul skripsi Pelaksanaan Metode Active Learning dalam Pembelajaran PAI Anak Kelas III SD Al Azhar Islam 28 Solo Baru. mengangkat permasalahan Pelaksanaan Metode Active Learning dalam Pembelajaran PAI anak kelas III SD Al Azhar Islam 28 Solo Baru, pelaksanaan metode belajar aktif atau active learning sangat diperlukan agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan optimal dan terciptanya hubungan timbal balik antara siswa dan guru.           
            Skripsi Ahmad Zanin Nu’man tahun 2007 berjudul “Metode Active Learning dalam Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah Aliyah Keagamaan Darul Falah Sirahan Kecamatan Cluwak Kabupaten Pati Tahun Pelajaran 2006/2007", skripsi ini meneliti tentang meneliti tentang metode-metode active learning dalam pembelajaran bahasa arab, pola-polanya dan efektivitasnya.
Aenun Hakimah (UIN Sunan Kalijaga 2009), dengan judul tesis Penerapan Strategi Active Learning Dalam Pembelajaran Fiqh ( Studi di Kelas Wustho Madrasah Diniyah Miftahul Huda Desa Mandiraja Kecamatan Moga Kabupaten Pemalang ).  Tesis ini meneliti tentang  penerapan stategi active learning dalam pembelajaran fiqh di kelas Wustho Madrasah Diniyah Miftahul Huda, komponen-komponen active learning dalam pembelajaran fiqh, pelaksanaan strategi active learning dalam pembelajaran Fiqh serta tanggapan siswa tentang penerapan strategi active learning dalam pembelajaran Fiqh.
            Nurliyah, dalam Jurnal Pendidikan Inovati, Jilid 4 , Nomor 1, September 2008, yang berjudul Upaya Guru dalam Meningkatkan Prestasi Siswa, berisikan upaya guru dalam meraih prestasi siswa dilakukan dengan mengadakan, pertama bimbingan secara terprogram dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai prestasi, bakat, minat, kondisi, dan perkembangan peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran aktif, kreatif dan menyenangkan, kedua bimbingan kelompok dengan cara guru memberikan guru melaksanakan bimbingan kelompok baik di dalam maupun diluar, ketiga bimbingan individu, pemberian penghargaan, dan bimbingan terpadu.
Penelitian yang dilakukan oleh Gordon Dryden dan Jeannette Vos. Hasil penelitian mereka menghasilkan buku yang berjudul “ Revolusi Cara Belajar (The Learning Revolution) : Keajaiban Pikiran Sekolah Masa Depan”. Buku ini diterjemahkan oleh Word+Translation Service dan diterbitkan oleh penerbit Kaifa, Jakarta, pada tahun 2001. Buku ini menjelaskan bahwa setiap kita memiliki otak dan kemampauan yang mengagumkan, bejalar dengan  cara yang tepat dan menyenangkan, dan beberapa kiat yang cemerlang dalam menghadapi berbagai problema belajar. Buku ini dijadikan tinjauan pustaka penulis, karena “revolusi cara belajar” merupakan bagian penting dalam pemebelajaran active learning. Sudah kita ketahui bersama sampai sekarang ini peserta didik lebih banyak menerima atau pasif menunggu apa yang akan disampaikan oleh seorang guru. Oleh karena itu dengan adanya kesadaran untuk aktif dalam proses belajar mengajar diharapkan peserta didik berperan aktif mencari informasi dan mengeksplorasikan ide-ide yang didapat.
            Dari beberapa hasil penelitian di atas belum ada yang meneliti active learning sebagai basis dari metode yang dipakai dalam proses belajar mengajar, terutama dalam pelajaran fiqih.

Kerangka Teori
Dalam dunia proses belajar mengajar, yang disingkat PBM, sebuah ungkapan populer di kenal dengan “metode jauh lebih penting dari pada materi”. Demikian urgennya metode dalam proses pendidikan dan pengajaran, sebuah proses belajar mengajar bisa dikatakan tidak berhasil bila dalam proses tersebut tidak menggunakan metode. Karena metode menempati posisi kedua terpenting setelah tujuan dari sederetan kompone-komponen pembelajaran; tujuan, metode, materi, media dan evaluasi (Armai Arief 2002, hal. 109).
            Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk dimplementasikan dalam  pembelajaran, di antaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) debat... (http://www.psb-psma.org/content/blog/pengertian-pendekatan-strategi-metode-teknik -taktik-dan-model-pembelajaran).
            Metode pendidikan Islam adalah cara yang dapat ditempuh dalam memudahkan pencapaian tujuan pendidikan Islam. perkembangan  metode pendidikan Islam diukur dari seberapa modern cara  yang dipakai dalam proses tersebut. Karena pada dasarnya metode-metode tidak ada yang tertinggal pada setiap periode. Malaupun banyak metode yang lahir sesuai dengan perkembangan pemikiran dan kebutuhan zaman (Arma’i Arief 2002, hal. 50).
Pembelajaran merupakan proses yang lebih menekankan kepada upaya untuk mewujudkan terjadinya proses belajar dari siswa. Dalam hal ini maka siswa menjadi pelaku yang lebih dominan daripada guru. Sehingga pembelajaran lebih menunjukkan pada terjadinya belajar secara aktif (Imam Ma’ruf 2009, hal 77).
Adapun Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif (active learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa/anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran. Beberapa penelitian membuktikan bahwa perhatian anak didik berkurang bersamaan dengan berlalunya waktu.
Pembelajaran aktif bukan berarti belajar hanya sekedar dengan senang-senang, kendati kegiatan belajar ini memang bisa menyenangkan dan tetap dapat mendatangkan manfaat. Sesungguhnya  banyak teknik aktif yang memberi siswa tantangan yang menuntut kerja keras( Silberman 2006, hal. 31).
Active learning (belajar aktif) pada dasarnya berusaha untuk memperkuat dan memperlancar stimulus dan respons anak didik dalam pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi hal yang menyenangkan, tidak menjadi hal yang membosankan bagi mereka. Dengan memberikan strategi active learning (belajar aktif) pada anak didik dapat membantu ingatan (memory) mereka, sehingga mereka dapat dihantarkan kepada tujuan pembelajaran dengan sukses. Hal ini kurang diperhatikan pada pembelajaran konvensional. Dalam metode active learning (belajar aktif) setiap materi pelajaran yang baru harus dikaitkan dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang ada sebelumnya. Materi pelajaran yang baru disediakan secara aktif dengan pengetahuan yang sudah ada. Agar murid dapat belajar secara aktif guru perlu menciptakan strategi yang tepat guna sedemikian rupa, sehingga peserta didik mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar. (Mulyasa, 2004:241)
Dapat dipahami bahwa belajar aktif adalah belajar yang menjadikan suasana bagi peserta didik untuk bekerja keras dalam proses belajar mengajar, bukan berarti belajar yang selalu dengan canda tawa tanpa manfaat.
Menurut Taslimuharrom (2008, hal. 44)  sebuah proses belajar dikatakan aktif (active learning) apabila mengandung:
1  Keterlekatan pada tugas (Commitment)
Dalam hal ini, materi, metode, dan strategi pembelajaran hendaknya bermanfaat bagi siswa (meaningful), sesuai dengan kebutuhan siswa (relevant), dan bersifat/memiliki keterkaitan dengan kepentingan pribadi (personal);
2  Tanggung jawab (Responsibility)
Dalam hal ini, sebuah proses belajar perlu memberikan wewenang kepada siswa untuk berpikir kritis secara bertanggung jawab, sedangkan guru lebih banyak mendengar dan menghormati ide-ide siswa, serta memberikan pilihan dan peluang kepada siswa untuk mengambil keputusan sendiri.
3  Motivasi (Motivation)
Proses belajar hendaknya lebih mengembangkan motivasi intrinsic siswa. Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Dalam perspektif psikologi kognitif, motivasi yang lebih signifikan bagi siswa adalah motivasi intrinsik (bukan ekstrinsik) karena lebih murni dan langgeng serta tidak bergan­tung pada dorongan atau pengaruh orang lain. Dorongan mencapai prestasi dan memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk masa depan, umpamanya, memberi pengaruh lebih kuat dan relatif lebih lang­geng diban­dingkan dengan dorongan hadiah atau dorongan keharusan dari orangtua dan guru. Motivasi belajar siswa akan meningkat  apabila ditunjang oleh pendekatan yang lebih berpusat pada siswa (student centered learning). Guru mendorong siswa untuk aktif mencari, menemukan dan memecahkan masalahnya sendiri. Ia tidak hanya menyuapi murid, juga tidak seperti orang yang menuangkan air ke dalam ember.
Dalam pembelajaran aktif, fokus utamanya adalah menciptakan berbagai kondisi yang memungkin para siswa menggunakan waktu sebnyak-banyaknya untuk belajar. Para pengajar dalam konsep pembelajaran aktif tidak melakukan tugasnya untuk mentransfer ilmunya kepada siswa. Pembelajaran aktif menempatkan para pengajar sebagai seorang fasilitator, atau dinamisator yang bertugas untuk menciptakan kondisi di kelas agar kondusif untuk terjadinya proses belajar siswa (Imam Makruf 2009, hal. 78).
Dari penjelasan di atas bahwa pembelajaran aktif merupakan bentuk pembelajaran yang sangat memperhatikan proses. Menitik beratkan pada keaktifan peserta didik dengan memperhatikan segala aspek yang mendukung terciptanya proses pembelajaran yang aktif.

Defenisi Istilah dan Konsep
Agar tidak terjadi kesalahan dalam memahami maksud yang ada dalam judul tesis ini, maka akan kami jelaskan defenisi operasional sebagai berikut:
1.        Metode pembelajaran
Metode mengajar ialah alat yang merupakan perangkat atau bagian dari suatu strategi pengajaran (Usman 2002, hal. 22). Metode mengajar juga dapat diartikan sebagai cara yang dipergunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran (Depag 2001, hal. 88). Metode digunakan dalam proses belajar mengajar hendaknya disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan seperti faktor peserta didik. Demikian halnya pula pemilihan metode dalam pembelajaran fiqih berbasis active learning.
Metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksana kegiatan guna mencapai tujuan yang telah ditentukan (Depdibud, 1995 hal. 218). Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan oleh guru untuk menyampaikan pelajaran kepada siswa. Karena berlangsung dalam interaksi edukatif maka metode dapat diartikan sebagai cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pembelajaran (Kasinyo Harto dan Abdurrahmansyah 2009, hal. 50). Dalam hal ini adalah cara yang digunakan dalam pembelajaran fiqih.

2.        Berasis Active Leraning
                   Kata berbasis berasal  dari kata “basis” yang berarti azas atau dasar dan mendapat awalan “ber” yang berarti menjadikan sesuatu sebagai (Depdiknas, 2003: 82). Jadi kata berbasis menjadikan sesuatu sebagai azas atau dasar.
Secara harfiah active artinya: ”in the habit of doing things, energetic” (Hornby, 1994:12), artinya terbiasa berbuat segala hal dengan menggunakan segala daya. “Learning” berasal dari bahasa Inggris yang berarti pembelajaran. Pembelajaran yang aktif berarti pembelajaran yang memerlukan keaktifan  semua siswa dan guru secara fisik, mental, emosional, bahkan moral dan spiritual (htttp://id.wordpress.com/tag/artikel-pendidikan). Dalam hal ini adalah pembelajaran fiqih yang berbasis aktif.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa metode pembelajaran fiqih berbasis aktive learnig adalah cara yang diguanakan dalam pembelajaran dengan menjadi siswa sebagai pusat pembelajaran dan pendidi menajadi fasilitator dan bahkan menjadi partner belajar bagi perserta dididk.

Metodologi Penelitian
Metode dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, karena data yang ada merupakan data yang pasti, yaitu data yang sebenarnya terjadi sebagaimana adanya, bukan data yang sekedar melihat, mengucap tapi data yang mengandung makna dibalik dan dilihat dan terucap tersebut.
            Pada prinsipnya metode penelitian merupakan suatu cara yang ditempuh berdasarkan kajian ilmiah untuk mendapatkan data tujuan tertentu. Tentunya kajian ilmiah ini didasarkan pada metode keilmuan yang berupa usaha untuk menemukan, penelitian. Melalui cara ilmiah inilah, diharapkan data yang diperoleh adalah data yang objektif, valid dan realible (Anas Sugiono 2007, hal. 34).
            Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif, yaitu mendeskripsikan atau cerita yang dapat menggambarkan dari permasalahann yang diteliti atau melakukan kaji ulang, bertanya pada orang lain, menghimpun informasi yang sejenis untuk memperoleh kesimpulan yang sama. Interpretasi terhadap isi dibuat dan disusun secara sistemik/menyeluruh dan sistematis (Amirul Hadi dan Haryono 2005, hal. 14).  
            Sedangkan menurut Iskandar (2008 hal. 17) pendekatan kualitatif merupakan pendekatan penelitian yang memerlukan pemahaman yang mendalam dan menyeluruh berhubungan dengan objek yang diteliti bagi menjawab permasalahan untuk mendapat data-data kemudian dianalisis dan mendapat kesimpulan penelitian dalam situasi dan kondisi yang tertentu.

Jenis Data
Penelitian ini menggunakan dua jenis data yaitu primer dan skunder
1.      Data primer
Dara primer adalah data yang didapat dari sumber pertama (Burhan Bungin 2001, hal. 129). Data primer diperoleh dari hasil penggalian oleh peneliti sendiri dalam hal ini menggunakan observasi, dokumentasi dan wawancara atau data yang diperoleh langsung dari informan.
2.      Data skunder
Data skunder adalah data yang sudah ada atau data hasil penelitian dari pihak lain , buku-buku ilmiah, dokumen jurnal atau peraturan yang mempunyai hubungan dengan penelitian ini



Sumber data
Pada penelitian sumber data akan didapat dari beberapa informan yang sesuai atau berkompeten dan relevan dengan penelitian. Adapun para informan tersebut adalah kepala Madrasah Aliyah Negeri 03 Palembang, wakil kepala kurikulum , Guru Fiqih dan siswa-siswi akselerasi.

Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini memakai beberapa teknik sesuai dengan jenis data yang dibutuhkan, yaitu:
1.      Observasi, melakukan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang tampak pada objek penelitian (Nawawi 2003, hal. 100). Teknik ini digunakan untuk mengamati langsung kegiatan dan proses pembelajaran:
1).  Kegiatan dan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru seperti  metode yang dipakai guru fiqih dan suasana pembelajaran.
2)      Keadaan siswa dalam pembelajaran, ( keaktifan siswa dalam belajar misalnya siswa aktif berdiskusi, bertanya (kritis), siswa aktif menjawab).
2.      Dokumentasi
Dokumentasi adalah cara mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis seperti arsip-arsip, dan termasuk juga buku-buku tentang pendapat, teori, dalil dan hukum dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penelitian (S. Margono 1997, hal. 181). Teknik yang digunakan peneliti dalam mencari sumber baik referensi dari buku-buku tentang Active learning, strategi pembelajaran, proses belajar mengajar, prestasi siswa dan sumber lain yag diperlukan.  Teknik ini juga dapat dipakai oleh peneliti dalam mengumpulkan data-data sekolah seperti: sejarah dan letak geografis sekolah, keadaan sarana dan prasarana, stuktur organisasi, keadaan guru, keadaan siswa dan data nilai bahasa arab siswa .
3.      Wawancara
Wawancara dipergunakan untuk memperoleh keterangan maupun penjelasan dari sumber informasi (informan) dengan jalan melakukan wawancara langsung dan mendalam untuk mendapat informasi yang akurat (Yin 2003, hal. 134). Selanjutnya dijelaskan bahwa peran informan kunci sangat penting dalam keberhasilan penelitian.  Teknik ini digunakan untuk mendapatkan data berupa informasi dari guru fiqih tentang metode pembelajaran fiqih berbasis active learning. Teknik ini juga digunakan untuk mendapatkan data berupa informasi dari kepala sekolah tentang sejarah dan letak geogafis serta perkembangan MAN 3 Palembang serta siswa-siswi untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap metode pembelajaran fiqih berbasis active learning.
.
Teknik Analisis Data
Melakukan analisis berarti melakukan kajian untuk struktur suatu fenomena (Gay 1987, hal. 211). Analisa data dilakukan dengan menguji kesesuaian antara data yang satu dengan data yang lain. Penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk menganalisis data penelitian. Metode kualitatif deskriptif yaitu menututurkan dan menafsirkan data yang ada sehingga membuat data yang ada menjadi berarti. Selanjutkanya datang terkumpul dibahas kemudian diambil kesimpulan yang umum atau mengumpulkan data kemudian mengambil suatu kesimpulan.
            Adapun tahapan-tahapan yang dilakukan dalam analisis data adalah sesuai dengan yang dikemukakan oleh Iskandar (2008, hal. 256) yaitu:
1.      Pengorganisasian data dilakukan setelah data yang diperoleh dari setiap pertanyaan penelitian yang sudah dianggap memadai.
2.      Menafsirkan dan merumuskan data tentang penelitian.
3.      Mengambil kesimpulan akhir terhadap data-data dalam bentuk temuan umum dan temuan khusus.

Jadwal dan Langkah-langkah Penelitian
No
Kegiatan
Bulan ke 1
Bulan ke 2
Bulan ke 3
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Penyusunan
Proposal
x
x










2
Menentukan Fokus Observasi, Perisiapan daftar pertanyaan


x
x








3
Memasuki lapangan




x
x






4
Analisis data






x
x




5
Membuat Draf laporan penelitian








x
x


6
Penyempurnaan laporan










x
x

Rencana Susunan Bab
Untuk mempermudah menganalisa dan membahas hasil penelitian ini, maka penulis menyusun sistematika pembahasan sebagai berikut:
Bab pertama bagian pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan  penelitian, definisi, metodologi, analisa data dan rencana susunan bab.
Bab kedua merupakan landasan teori yang meliputi pengertian metode, faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan metode, kelebihan dan kelemahan metode yang dipakai, guru fiqih dan  fungsi guru fiqih, landasan pembelajaran fiqih , tujuan pembelajaran fiqih, pengertian dan konsep pembelajaran active learning,  prinsip-prinsip pembelajaran berbasis active learning, faktor-faktor yang mempengaruhi metode pembelajaran fiqih berbasis aktif (active learning).
Bab ketiga deskripsi wilayah penelitian yang berisikan sejarah MAN 3 Pakjo Palembang, struktur organisasi sekolah, keadaan guru, keadaan siswa, struktur organisasi siswa, keadaan sarana dan prasarana serta proses belajar mengajar.
Bab keempat merupakan analisis  permasalahan yang berisikan tentang metode pembelajaran fiqih di kelas akselerasi MAN 03 Palembang, implementasi metode pembelajaran fiqih berbasis aktif learning di kelas akselerasi MAN 03 Palembang dan faktor penghambat dan pendukung metode pembelajaran fiqih berbasis aktif learning di kelas akselerasi MAN 03 Palembang.
Bab kelima merupakan bab penutup yang berisikan beberapa kesimpulan, saran dan implikasi. Pada bagian akhir dicantumkan referensi, biodata dan lampiran-lampiran.
















Referensi


Abdullah, Amin 2001. “Problem Epistimologis-Metodologis Pendidikan Agama”, dalam Munir Mulkhan, dkk, Rekonstruksi Pendidikan dan Tradisi Pesantren Religiusitas Iptek. Pustaka Pelajar,  Jogjakarta.

Arief, Armai 2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Ciputat Pers,  Jakarta.

Azra, Azyumardi 2001. Rekonstruksi Kritis Ilmu dan Pendidikan Islam dalam Munir Mulkhan, dkk, Rekonstruksi Pendidikan dan Tradisi Pesantren Religiusitas Iptek. Pustaka Pelajar, Jogjakarta.

Badan Hukum Pendidikan  2009. Peraturan Pemerintah  No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.  Kesindo Utama, Surabaya.

Daradjat, Zakiyah 2000. Methodik Khusus Pengajaran Agama Islam. Bumi Aksara, Jakarta.

Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka, Jakarta.

Depag RI. 2001. Metodologi Pendidikan Islam. Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Jakarta.
Mulyasa, E., 2004.Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Konsep, Karakteristik dan Implementasi. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Gay 1987, Education Research, Third Edition. International Univercity,  Florida.

Hadi, Amirul dan Haryono 2005. Metodologi Penelitian Pendidikan, CV. Pustaka Setia, Bandung.

Hamalik, Oemar 1995 Kurikulum dan Pembelajaran. Bumi Aksara, Jakarta.
Iskandar 2008. Metodologi Penelitian dan Pendidikan dan Sosial (Kualitatif dan Kuantitatif. Gaung Persada Pres, Jakarta.

Junaedi 2008. Strategi Pembelajaran. LAPIS, Surabaya.

Ma’ruf, Imam 2009. Strategi Pembelajaran Bahasa Arab Aktif. Need’s Press, Semarang.

Namsa, Yunus 2000. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Pustaka Firdaus, Ternate.

Ramayulis 1992. Ilmu Pendidikan Islam. Kalam Mulia, Jakarta.

Silberman 2006. Active Learning, 101 Cara Belajar Siswa Aktif (terjemahan Raisul Muttaqin). Nusamedia, Bandung.

Supriawan, Dedi dan Surasega, A. Benyamin 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). FPTK-IKIP Bandung, Bandung.
Syamsuddin, Abin dan Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Rosda Karya Remaja, Bandung.

Taslimuharrom. 2008. Metodologi PAKEM. Artikel Pendidikan.

Uno, Hamzah  B. 2008,  Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. Bumi Aksara, Jakarta.

Usman, Basyarudin 2002. Metodologi Pembelajaran Agama Islam. Ciputat Press, Jakarta.
Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Kencana Prenada Media Group, Jakarta.
Yusuf, Tayar dan Anwar, Syaiful Anwar 1995. Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab. PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Ayo tinggalkan jejak anda berupa komentar disini !!! karena komentar anda sangat berarti sekali demi kemajuan blog ini.

Panduan Memberi Komentar
1.Masukan komentar anda
2.Lalu pada kata 'beri komentar sebagai' , pilih account yang anda punya, bagi yang belum mempunyai account pilih Name/url, isi nama anda dan Kosongkan URL atau isi dengan alamat facebook anda(untuk mengetahui alamat facebook anda silahkan login ke facebook dan pilih profile anda, anda dapat melihat alamat Facebook anda di atas, contoh alamat Facebook punya saya http://www.facebook.com/profile.php?id=1823916177
3.dan kemudian Publikasikan
4.Selesai dan anda tinggal menunggu komentar anda muncul
Semoga bermanfa'at.